Kamis, 09 Agustus 2012

Pondok Cina ( Engku Syintal)

Pondok Cina

masih tertinggal busuk getah karet dan bayangan bocah berebut bebijiannya mengadu bersikuat biji,
himpit menghimpit menekaknya dengan telapak tangan
terkadang raung kereta langsam menggoda mereka

untuk segera meletakkan paku panjang enam, tepat di atas rel,tempat roda baja melintas melindas, mengubah paku menjadi pisau kecil.
diacungkannya belati kecil dengan genggam seadanya dan kepal tawa meneriakkan "MERDEKA !"
 
semilir langkisau mendendangkan tentang Jakarta "keparat"
gusur menggusur melebarkan jalan setapak yang menyempitkan hunian gedek berlantai tanah
 
tak lagi disentri, borok dan bisul yang setia mengistirahatkan bocah beringus hijau
tak ada lagi gohok, kesemek, kecapi, buni dan jamblang pengantar vitamin c penyembuh koreng, bisul, mencret, juga pelepas dahaga saat berteduh di rimbunnya pohon karet
 
bocah kehilangan teman, ayah kehilangan rumah, 
gerombolan batu, pasir, semen, dan baja, telah mengurung keakraban
jangan pernah tanya lagi dimana pedagang timus, rujak bebek, gulali dan cincau
tangis bocah pitak berebut kebembem pun lenyap
 ....

"Mami, jangan lupa bawai kentaki ya,,, papi beliin burger dong ama pantanya"
 tukar panggilan emak dan babah, enyak dan babeh, dengan mami, mama, papi, papa
 
"engkong udah pada modar. udah kagak ada lagi bocah begelut di langgar seudahan ngaji. 
'pan wak aji dah mati "
 
pondok cina gedong belanda
orang depok udah kagak ada
dan kampus telah berhasil mengusir atik dan memed
persis kayak kumpeni minta tanah
 
___________________________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagi hal yang positif, apapun bentuknya, adalah amal sholeh. Semoga ALLAH membalasnya. Amin.