Sabtu, 11 Desember 2010

SANGKAN PARANING DUMADI

 
Dalam hidup ini, manusia senantiasa diingatkan untuk memahami filosofi Kejawen yang berbu
nyi “Sangkan Paraning Dumadi”. Apa sebenarnya Sangkan Paraning Dumadi? Tidak banyak orang yang mengetahuinya. Padahal, jika kita belajar tentang Sangkan Paraning Dumadi, maka kita akan mengetahuikemana tujuan kita setelah hidup kita berada di akhir hayat.
Manusia sering diajari filosofi Sangkan Paraning Dumadi itu ketika merayakan Hari Raya Idul Fitri. Biasanya masyarakat Indonesia lebih suka menghabiskan waktu hari raya Idul Fitri dengan mudik. Nah, mudik itulah yang menjadi pemahaman filosofi Sangkan Paraning Dumadi. Ketika mudik, kita dituntut untuk memahami dari mana dulu kita berasal, dan akan kemanakah hidup kita ini nantinya.
Untuk lebih jelasnya, marilah kita simak tembang dhandanggula warisan para leluhur yang sampai detik ini masih terus dikumandangkan.
 

 
Kawruhana sejatining urip 
Urip ana jroning alam donya
Bebasane mampir ngombe
Umpama manuk mabur
Lunga saka kurungan neki
Pundi pencokan benjang
Awja kongsi kaleru
Umpama lunga sesanja
Najan-sinanjan ora wurung bakal mulih
Mulih mula mulanya

{ Ketahuilah sejatinya hidup.
Hidup di dalam alam dunia Ibarat perumpamaan mampir minum   Seumpama burung terbang,
Pergi dari kurungannya, Dimana hinggapnya besok, Jangan sampai keliru, Umpama orang pergi bertandang, Saling bertandang, yang pasti bakal pulang, Pulang ke asal mulanya.

Kemanakah kita bakal ‘pulang’?
Kemanakah setelah kita ‘mampir ngombe’ di dunia ini?
Dimana tempat hinggap kita andai melesat terbang dari ‘kurungan’ (badan jasmani) dunia ini?
Kemanakah aku hendak pulang setelah aku pergi bertandang ke dunia ini?
Itu adalah suatu pertanyaan besar yang sering hinggap di benak orang-orang yang mencari ilmu sejati.

Yang jelas, beberapa pertanyaan itu menunjukkan bahwa dunia ini bukanlah tempat yang langgeng. Hidup di dunia ini hanya sementara saja. Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika kita menyimak tembang dari Syech Siti Jenar yang digubah oleh Raden Panji Natara dan digubah lagi oleh Bratakesawa yang bunyinya seperti ini:

“Kowe padha kuwalik panemumu, angira donya iki ngalame wong urip, akerat kuwi ngalame wong mati; mulane kowe pada kanthil-kumanthil marang kahanan ing donya, sarta suthik aninggal donya.” (“Terbalik pendapatmu, mengira dunia ini alamnya orang hidup, akherat itu alamnya orang mati. Makanya kamu sangat lekat dengan kehidupan dunia, dan tidak mau meninggalkan alam dunia”)

Pertanyaan yang muncul dari tembang Syech Siti Jenar adalah:
Kalau dunia ini bukan alamnya orang hidup, lalu alamnya siapa?

Syech Siti Jenar menambahkan penjelasannya:
“Sanyatane, donya iki ngalame wong mati, iya ing kene iki anane swarga lan naraka, tegese, bungah lan susah. Sawise kita ninggal donya iki, kita bali urip langgeng, ora ana bedane antarane ratu karo kere, wali karo bajingan.” (Kenyataannya, dunia ini alamnya orang mati, iya di dunia ini adanya surga dan neraka, artinya senang dan susah. Setelah kita meninggalkan alam dunia ini, kita kembali hidup langgeng, tidak ada bedanya antara yang berpangkat ratu dan orang miskin, wali ataupun bajingan”)

Dari pendapat Syech Siti Jenar itu kita bisa belajar, bahwa hidup di dunia ini yang serba berubah seperti roda (kadang berada di bawah, kadang berada di atas), besok mendapat kesenangan, lusa memperoleh kesusahan, dan itu bukanlah merupakan hidup yang sejati ataupun langgeng.

Wejangan beberapa leluhur mengatakan:
“Urip sing sejati yaiku urip sing tan keno pati”. (hidup yang sejati itu adalah hidup yang tidak bisa terkena kematian). Ya, kita semua bakal hidup sejati. Tetapi permasalahan yang muncul adalah, siapkah kita menghadapi hidup yang sejati jika kita senantiasa berpegang teguh pada kehidupan di dunia yang serba fana?

Ajaran para leluhur juga menjelaskan:
“Tangeh lamun siro bisa ngerti sampurnaning pati,
yen siro ora ngerti sampurnaning urip.”
(mustahil kamu bisa mengerti kematian yang sempurna,
jika kamu tidak mengerti hidup yang sempurna).

Oleh karena itu, kita wajib untuk menimba ilmu agar hidup kita menjadi sempurna dan mampu meninggalkan alam dunia ini menuju ke kematian yang sempurna pula.

Jumat, 10 Desember 2010

Dasar-dasar Logika


Logika
Pikiran manusia pada hakikatnya selalu mencari dan berusaha untuk memperoleh kebenaran. Karena itu pikiran merupakan suatu proses. Dalam proses tersebut haruslah diperhatikan kebenaran bentuk dapat berpikir logis. Kebenaran ini hanya menyatakan serta mengandaikan adanya jalan, cara, teknik, serta hukum-hukum yang perlu diikuti. Semua hal ini diselidiki serta dirumuskan dalam logika.
Secara singkat logika dapat dikataka sebagai ilmu pengetahuan dan kemampuian untuk berpikir lurus. Ilmu pengetahuan sendiri adalah kumpulan pengetahuan tentang pokok tertentu. Kumpulan ini merupakan suatu kesatuan yang sistematis serta memberikan penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Penjelasan ini terjadi dengan menunjukkan sebab musababnya.
Logika juga termasuk dalam ilmu pengetahuan yang dijelaskan diatas. Kajian ilmu logika adalah azas-azas yang menentukan pemikiran yang lurus, tepat, dan sehat. Agar dapat berpikir seperti itu, logika menyelidiki, merumuskan, serta menerapkan hukum-hukum yang harus ditepati. Hal ini menunjukkan bahwa logika bukanlah sebatas teori, tapi juga merupakan suatu keterampilan untuk menerapkan hukum-hukum pemikiran dalam praktek. Ini sebabnya logika disebut filsafat yang praktis.
Objek material logika adalah berfikir. Yang dimaksud berfikir disini adalah kegiatan pikiran, akal budi manusia. Dengan berfkir, manusia mengolah dan mengerjakan pengetahuan yang telah diperolehnya. Dengan mengolah dan mengerjakannya ia dapat memperoleh kebenaran. Pengolahan dan pegearjaan ini terjadi dengan mempertimbangkan, menguraikan, membandingkan, serta menghubungkan pengertian satu dengan pengertian lainnya.
Tetapi bukan sembarangan berfikir yang diselidiki dalam logika. Dalam logika berfikir dipandang dari sudut kelurusan dan ketepatannya. Karena berfikir lurus dan tepat merupakan objek formal logika. Suatu pemikiran disebut lurus dan tepat, apabila pemikirn itu sesuai dengan hukum-hukum serta aturan-aturan yang sudah ditetapkan dalam logika.
Dengan demikian kebenaran juga dapat diperoleh dengan lebih mudah dan aman. Semua ini menunjukkan bahwa logika merupakan suatu pegangan atau pedoman untuk pemikiran.
Macam-macam logika
Logika dapat dibedakan atas dua macam, namun keduanya tidak dapat dipisahkan.
a. Logika Kodratiah
Akal budi (pikiran) bekerja menurut hukum-hukum logika dengan cara spontan. Tetapi dalam hal-hal tertentu (biasanya dalam masalah yang sulit), akal budi manusia maupun seluruh diri manusia bisa dipengaruhi oleh keinginan-keinginan dan kecenderungan-kecenderungan yang subjektif. selain itu, perkembangan pengetahuan manusia sendiri sangat terbatas.
Hal-hal ini menyebabkan kesesatan tidak terhindarkan. Walaupun sebenarnya dalam diri manusia sendiri juga ada kebutuhan untuk menghindari kesesatan tersebut. Untuk menghindari kesesatan itulah, dibutuhkan ilmu khusus yang merumuskan azaz-azaz yang harus ditepati dalam setiap pemikiran, yaitu logika ilmiah.
b. Logika Ilmiah
Logika ini membantu logika kodratiah. Logika ilmiah memperhalus dan mempertajam akal budi, juga menolong agar akal budi bekerja lebih tepat, lebih teliti, lebih mudah, dan lebih aman. Dengan demikian kesesatan dapat dihindarkan, atau minimal bisa dikurangi dengan kadar tertentu. Logika inilah, yang dimaksud mempunyai hukum-hukum atau azaz-azaz yang harus ditepati.
Dalam penyelidikan hukum-hukum logika, dapat diuraikan bahwa pemikiran manusia terjadi tiga unsur. Yaitu pengertian-pengertian atau kata, kemudian kata atau pengetian itu disusun itu sedemikian tupa sehingga menjadi keputusan-keputusan.
Akhirnya keputusan-keputusan itu disusun menjadi penyimpulan-penyimpulan.

Jumat, 03 Desember 2010

SAKIT "eFBi"

Banyak orang maniak dengan situs jejaring sosial hingga membuat mereka menyepi dan jatuh ke jurang sosial. Sampai-sampai ada penyimpangan perilaku dikenal dengan Facebook addiction disorder (FAD) Tanda masuk jurang sosial:

Cina dan Amerika Serikat, harus membuka klinik terapi penyembuhan kecanduan Internet. Di Amerika Serikat, pada Juli 2009, dibuka program untuk rehabilitasi kecanduan Internet. Program selama 45 hari ini dibanderol US$ 14.500.
indikasi:
- Selalu membuka setidaknya tiga tab/window untuk mengakses situs jejaring sosial (Twitter/Facebook).
- Enggan tidur untuk tetap online.
- Jika akses ke situs jejaring sosial berkurang, Anda merasa gelisah, murung, depresi, atau mudah tersinggung.
- Kegiatan sosial di dunia nyata berkurang dan beralih ke situs jejaring sosial.
- Anda mulai mengungkapkan kasih sayang kepada orang tercinta melalui situs jejaring sosial daripada secara langsung.
- Anda memiliki teman banyak di situs jejaring sosial. Tapi daftar teman itu lebih      banyak yang tak Anda ketahui siapa mereka.
- Sering berbohong untuk menutupi aktivitas berjejaring sosial yang berlebih.
- Situs jejaring sosial jadi tempat pelarian dari masalah dan depresi.
- Kehidupan Anda berpindah ke dunia maya. Anda mulai mengungkapkan bahasa sehari-hari ke dalam situs jejaring sosial.
- Fisik berubah (berat badan naik, sakit punggung, sakit kepala).

Renungan


Nabi Muhammad Saw. telah memberi teladan yang sangat berharga bagi kita dalam mendengar "suara" diri. Sebelum menerima pesan-pesan samawi, beliau menyendiri di sebuah gua di Gunung Hira. Bukan apa-apa, tapi untuk mem-perkukuh jati diri, mempertajam mata hati, memfokuskan niat, membulatkan tekad, mengamati penciptaan, me-renungkan tanggung jawab yang bakal dipikulnya dan menghindari hiruk-pikuk dan kejemawaan warga Mekah.
Itulah sebabnya, be-liau tidak pernah mengenal kata mundur dan kompromi. Beliau tidak berstrategi de-ngan menipu-diri. Di hadapan kaum Quraisy yang menawar-kan harta, tahta, dan wanita, dengan lantang beliau ber-seru, "Demi Allah! Sekalipun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan berhenti melakukannya (dakwah)." Suatu pernyataan yang meletup dari keimanan, kejujuran, dan komitmen penuh pada diri sendiri.
Di Mekah, kita bisa membaca sejarah yang cukup unik. Yaitu sejarah penyiksaan. Contoh tragisnya ialah apa yang dialami Bilal. Ditengah terik matahari sahara, Bilal yang berada di bawahhimpitan batu besar hanya bisa bergumam, "Ahad! Ahad!" Begitu pula yang terjadi pada Ammar dan kedua orang-tuanya.
Mengapa? Bila diizinkan Nabi, tentu mereka akan melawan. Bila perlawanan mereka gagal, mereka bisa mereguk kesyahidan. Atau misalnya mengapa Nabi tidak cepat-cepat menyuruh mereka pergi dari Mekah? Mengapa Nabi tidak memerintahkan apa-apa? Inilah makna tertinggi dari metode dakwah Nabi. Dengan begitu, sebenarnya beliau hendak menjelaskan satu hal, tiada yang bisa diperbuat kalau itu tidak dimulai dengan penyadaran-diri dan internalisasi ajaran.
Penyadaran-diri akan apa yang sedang dan akan dilakukan.
Pada periode itu, tidak ada aktivitas Nabi selain pengajaran tentang tauhid. Suatu ajaran yang ingin membebaskan diri manusia dari keterpenjaraan pada hal-hal selain Allah. Tidak ada cara lain, kecuali masuk sepenuh hati ke jalan itu atau diri manusia akan ter-belit dalam sarang kepen-tingan, keinginan, harapan, fantasi, citra, dan lain sebagia-nya sebagai manifestasi dari disintegritas jiwa dan dirinya. Tanpa kesadaran seperti ini, manusia akan terjerembab dalam determinisme alam fisik dan gerak atomiknya.
 Kesa-daran ini membebaskan ma-nusia dari yang banyak, yang berubah-ubah, yang semen-tara, yang semu dan lain sebagainya dengan mengikat-kannya kepada Yang Maha Satu, Yang Maha Mutlak, Yang Maha Kekal, Yang Maha Nyata dan lain-lain. Hal ini karena manusia memang tidak akan bisa bebas, murni tanpa kendali sama sekali.
Islam mengajak manusia untuk menyayangi dan memperhatikan kondisi diri. Islam ingin me-nggugah manusia untuk bangkit melepaskan dirinya dari perasaan terkepung oleh pranata, definisi, konsep, waham, takhayul, fantasi, kekuatan, keberhasilan, kepahlawanan, kepentingan, perhatian, kekhawatiran dan tanggungjawab yang secara serampangan "diciptakannya" sendiri, dengan menuntunnya menuju jalan Ilahi yang Satu dan Tunggal. Jalan yang akan mengurai simpul-simpul kebodohan, paranoia dan kecemasan primordial yang tumbuh subur pada diri seorang yang merangkaki kehidupan tanpa "Kawan" dan Tuhan. Dalam kaitan ini, mengawali "perkenalannya" dengan manusia, Alquran berkata, "Bacalah dengan Nama Tuhanmu yang menciptakan" (QS. Al-Alaq, 96: 1). Artinya, jangan engkau mengigau ingin merancang cara hidupmu sendiri. Bila engkau merancangnya sediri, maka kebodohan, kelemahan, dan kecemasan primordialmu akan menjeratmu sendiri. Oleh karena itu, bacalah kehidupan ini dengan Nama Tuhan Sang Maha Pencipta yang Maha Mengetahui segala hal tentangmu.
Tidak pelak lagi, Islam sangat mewanti-wanti manusia untuk selalu melihat dan memperhitungkan diri sendiri. Semua jenis kerusakan, kezaliman, dan kerugian dilakukan dirinya sendiri. Tidak ada dosa yang terwujud, tanpa persetujuan diri manusia. Sebaliknya, tiada kebaikan hakiki yang dapat dipancarkan selain yang berasal dari diri manusia itu sendiri. "Energi positif" tidak akan menyebar dari sumber negatif yang penuh dengan polusi. Salah satu polutan yang dapat dibayangkan adalah apa yang saya sebut dengan massifikasi; pembodohan yang dilakukan secara sistematis lewat media massa.
Tidak terlalu sulit untuk membuktikan bahwa dalam hingar-bingar media massa, suara "diri" luput dari pendengaran. Teriakan massa membuat suara diri manusia terabaikan dan hanya dapat bergerak dalam gelombang yang amat rendah dan kecil.
Teriakan massa sering mengayunkan pemimpin gadungan ke puncak kekuasaan dan menenggelamkan pemimpin sejati dalam kawah pertanggungjawaban. Mereka menyuarakan ketidakadilan dengan keras, tinggi, dan merdu. Terlena olehnya, diri manusia tidak dapat menahan diri untuk berdansa mengiringi ritmenya yang centang-perenang.
Adalah memilukan mengamati kenyataan banyaknya cerdik-pandai yang terbuai oleh alunan "lagu-lagu massa". Banyaknya pemimpin yang membangun masjid dirinya di atas gerobak kepentingan masal. Banyaknya pemikir yang merajut falsafahnya dengan benang kusut kompromi dan tawar-menawar. Banyaknya kepulan asap budaya massa yang mengaburkan ketajaman mata jiwa. Gonjang-ganjing hasrat massa yang memabukkan diri manusia. Tersaruk-saruknya pemimpin sejati dalam koridor massifikasi. Terenggutnya inspirasi diri dalam jala massa. Kenyataan-kenyataan itu tidak jarang kita temukan dalam sejarah manusia sejak dahulu kala.
Kenyataan-kenyataan tersebut dapat disaksikan dalam bentuknya yang amat mencekam di era globalisasi ini. Gendam teknologi informasi membuat diri manusia terkubur makin dalam. Media massa menjajakan diri-diri ilusif sebagai alternatif terhadap diri manusia yang karam dalam kesunyi-senyapan. Globalisasi membawa gelombang alienasi yang lebih dahsyat dari yang pernah dibayangkan.
Citra-citra media massa modern telah mencampakkan diri dan jiwa manusia ke dalam suatu pertarungan di tingkat pandangan-dunia, agama, ideologi, budaya, sistem ekonomi, dan politik yang penuh intrik.
Suatu pertarungan yang sama sekali tidak mengenal aturan. Hukum-hukum dirumuskan oleh para pelanggarnya. Kawan adalah lawan. Lawan adalah kawan. Suara lawan didengar kawan. Nasihat kawan diabaikan teman. Para korban adalah para pahlawan. Hidup mereka mengundang decak kekaguman. Omong-kosong dielu-elukan. Ajaran dilecehkan. Nilai-nilai dijungkir-balikkan.
Bersamaan dengan jatuhnya nilai-nilai "lama", nilai-nilai "baru" ditanamkan. Keterampilan mengelola hak sesama, kekreatifan memperalat kecenderungan, keluwesan membodohi pelanggan, ketajaman indra menyorot mangsa, kemampuan memanfaatkan kelemahan, kelihaian bermain pedang persaingan, kecepatan merebut peluang, kefasihan bernegosiasi dusta dan lain sebagainya telah dideklarasikan sebagai nilai-nilai baru tersebut. Itulah sebagian nilai ekonomi, politik, dan hubungan internasional dalam pertarungan dan pergesekan global ini.
Nilai-nilai baru juga ditetapkan untuk agama, budaya, dan pandangan-dunia. Bahkan tidak satu bagianpun dari kehidupan manusia yang tidak dijadikan ajang pertempuran ini. Walau bagaimanapun juga, alih-alih dianggap merugikan, semua ini malah disepakati sebagai suatu pencapaian yang amat berarti bagi kemanusiaan.
Pertarungan ini keras-keras menampar kesadaran kita. Ia menghisap seluruh daya-upaya dan memaksa kita untuk mempersiapkan "diri". Memaksa kita untuk mengaktifkan diri agar tidak lumpuh otot-ototnya, tidak juling matanya, tidak pelat lidahnya, dan tidak tuli telinganya.
Pertarungan ini juga sejenis perbudakan dan penawanan. Penawanan "unsur luar" terhadap potensi-potensi diri manusia. Ia dapat berlangsung secara subtil, tidak terukur, dan chaotic. Karenanya, ia sepenuhnya "terampuni". Bahkan, tidak jarang yang meresapi proses itu sebagai budi dan jasa para "tuan" kepada para budak.
Pada tahap selanjutnya, para budak dan tawanan itu akan hidup layaknya tanaman hias yang tak pernah menguning daunnya, tapi juga tak pernah matang buahnya. Tanaman yang disiram, tapi tidak dapat berkembang. Tanaman yang tidak memiliki "akar"; tidak "radikal", dan tidak pula "fundamental". Tanaman mati yang tidak dibuang, malah dipajang sebagai hiasan. Perumpamaan di atas berkaitan dengan firman Allah yang berbunyi, "Tidakkah kamu menyimak bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti tanaman yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit * Tanaman ini memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat berbagai perempamaan itu bagi manusia supaya mereka menjadi engah * Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti tanaman yang buruk, yang tercerabut dari permukaan bumi dan tidak memiliki pijakan sedikitpun * " (QS. Ibrahim, 14: 24-26)
Pujian adalah polusi lain yang dapat memumuk berkembangnya diri palsu dalam batin manusia. Pujian menyembulkan kepalsuan dan kemunafikan diri dalam tatarias yang menawan. Apalagi bila pujian itu sudah mulai disakralkan dalam wacana keagamaan, sosial, politik dan kultural. Pujian, yang sangat bertentangan dengan semangat rasional dan pola pikir kritis, dapat meredam tuntutan fitrah kepada kebenaran dan kejujuran.
Tidak sekedar itu, tapi semua gaya hidup, kebiasaan dan formalitas massa. Banyak jiwa yang terseret dalam upacara-upacara mempertahankan status quo. Lingkungan sering menjadi awan hitam yang sangat kontraproduktif bagi perkembangan diri. Diri manusia ini akan banyak dikonsumsi para "produsen" status dan jabatan.
Pengamatan menunjukkan bahwa orientasi ekstrovertif ini, telah membawa malapetaka yang tiada tara bagi manusia modern. Apa guna menguasai dunia, tapi kehilangan diri sendiri ? Inilah fenomena paling menyimpang dalam kehidupan dewasa ini. Globalisasi telah menarik perhatian manusia dari dirinya sendiri menuju hiruk-pikuk global.
Benar bahwa lingkungan global dapat menjadi sumber pengetahuan dan pengalaman, tapi suara diri adalah yang paling sejati dan jujur. Ekspresi kebenaran, kebaikan dan keindahan diri manusia tidak boleh larut dalam tinta koran, gelombang radio dan sorotan kamera. Musik diri mesti selalu didendangkan.
Manusia yang tidak dapat mendengar suara yang berasal dari dirinya akan kehilangan teman sejatinya. Manusia pertama-tama mesti mengenali dirinya sebelum selainnya. Bersahabat dengannya sebelum dengan selainnya. Manusia yang merasa memiliki teman yang banyak, tetapi kehilangan dirinya, akan selalu merasa kesepian. Dia akan ngeri menyendiri, menemukan alienasi dan keterasingannya sendiri. Ngeri melihat dirinya tergeletak dalam kesepian dan kekosongan ekspresi. Cermin diri mesti selalu digosok dari segala debu dan kotoran yang melekat. Cermin diri manusia modern telah banyak retak oleh benturan global.
Jangan menjadi manusia yang membangun rumahnya di atas "tanah" orang lain. Bagaimanapun, suatu hari dia akan terbangun dan meninggalkannya buat si pemilik tanahnya. Paling banter, dia mendapat sejumput rejeki sebagai pengganti.
Jangan melulu hidup untuk kulit dan daging yang membalut. Tubuh adalah juga "makhluk" asing yang menempel pada diri. Tubuh tidak segan-segan menyiksa dan menyakiti diri. Pamer dan gemar tubuh justru akan mengubur diri sejati. Parfum yang mengucuri tubuh, takkan mampu menghilangkan bau busuk bangkainya. Sebaliknya, semerbak wangi parfum diri akan tercium selamanya.
Diri juga dapat "pecah" dalam peperangan batin, bila tentara-tentara "asing" menyeruduk ke dalamnya. Diri hakiki dan sejati manusia itu merupakan hembusan dan nafas Ilahi. Diri sejati ialah yang menyukai pengetahuan dan keyakinan serta membenci kebodohan dan kesesatan, karena ia berasal dari Sang Maha Tahu nan Mutlak. Diri yang mencari keindahan Sang Maha Indah. Diri yang mencegah nista karena Sang Maha Agung nan Luhur. Diri yang menghindari kelemahan, karena berasal dari Sang Maha Kuat. Diri yang bersikap derwaman sebab hidup dengan "nafas" rahmany. Inilah diri yang mesti kita ikuti perintahnya, jaga kepentingannya, iringi ritmenya, simak nyanyiannya dan lagukan puisinya. Kita mesti bersedih dan bergembira untuknya.
Diri itulah yang secara intrinsik dan otentik akan menebarkan energi positif dalam kehidupan, baik perorangan maupun kemasyarakatan. Sang Maha Sempurna akan selalu menambahkan energi padanya. Diri itu juga secara mandiri akan merobohkan berhala-berhala kekuatan yang lalim dan sewenang-wenang. Tapi, ia tidak butuh dukungan, teman atau pasukan untuk melakukan apa yang dilakukannya. Ia akan menghapuskan kebodohan, kemiskinan, kebangkrutan, kedengkian, kebohongan, kesombongan dan kebencian bagi masyarakat sekitarnya. Sebab ia "berasal" dari Sang Maha Tahu, Maha Mandiri, Maha Kaya, Maha Agung, Maha Kuat dan lain sebagainya.