Sabtu, 11 Desember 2010

SANGKAN PARANING DUMADI

 
Dalam hidup ini, manusia senantiasa diingatkan untuk memahami filosofi Kejawen yang berbu
nyi “Sangkan Paraning Dumadi”. Apa sebenarnya Sangkan Paraning Dumadi? Tidak banyak orang yang mengetahuinya. Padahal, jika kita belajar tentang Sangkan Paraning Dumadi, maka kita akan mengetahuikemana tujuan kita setelah hidup kita berada di akhir hayat.
Manusia sering diajari filosofi Sangkan Paraning Dumadi itu ketika merayakan Hari Raya Idul Fitri. Biasanya masyarakat Indonesia lebih suka menghabiskan waktu hari raya Idul Fitri dengan mudik. Nah, mudik itulah yang menjadi pemahaman filosofi Sangkan Paraning Dumadi. Ketika mudik, kita dituntut untuk memahami dari mana dulu kita berasal, dan akan kemanakah hidup kita ini nantinya.
Untuk lebih jelasnya, marilah kita simak tembang dhandanggula warisan para leluhur yang sampai detik ini masih terus dikumandangkan.
 

 
Kawruhana sejatining urip 
Urip ana jroning alam donya
Bebasane mampir ngombe
Umpama manuk mabur
Lunga saka kurungan neki
Pundi pencokan benjang
Awja kongsi kaleru
Umpama lunga sesanja
Najan-sinanjan ora wurung bakal mulih
Mulih mula mulanya

{ Ketahuilah sejatinya hidup.
Hidup di dalam alam dunia Ibarat perumpamaan mampir minum   Seumpama burung terbang,
Pergi dari kurungannya, Dimana hinggapnya besok, Jangan sampai keliru, Umpama orang pergi bertandang, Saling bertandang, yang pasti bakal pulang, Pulang ke asal mulanya.

Kemanakah kita bakal ‘pulang’?
Kemanakah setelah kita ‘mampir ngombe’ di dunia ini?
Dimana tempat hinggap kita andai melesat terbang dari ‘kurungan’ (badan jasmani) dunia ini?
Kemanakah aku hendak pulang setelah aku pergi bertandang ke dunia ini?
Itu adalah suatu pertanyaan besar yang sering hinggap di benak orang-orang yang mencari ilmu sejati.

Yang jelas, beberapa pertanyaan itu menunjukkan bahwa dunia ini bukanlah tempat yang langgeng. Hidup di dunia ini hanya sementara saja. Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika kita menyimak tembang dari Syech Siti Jenar yang digubah oleh Raden Panji Natara dan digubah lagi oleh Bratakesawa yang bunyinya seperti ini:

“Kowe padha kuwalik panemumu, angira donya iki ngalame wong urip, akerat kuwi ngalame wong mati; mulane kowe pada kanthil-kumanthil marang kahanan ing donya, sarta suthik aninggal donya.” (“Terbalik pendapatmu, mengira dunia ini alamnya orang hidup, akherat itu alamnya orang mati. Makanya kamu sangat lekat dengan kehidupan dunia, dan tidak mau meninggalkan alam dunia”)

Pertanyaan yang muncul dari tembang Syech Siti Jenar adalah:
Kalau dunia ini bukan alamnya orang hidup, lalu alamnya siapa?

Syech Siti Jenar menambahkan penjelasannya:
“Sanyatane, donya iki ngalame wong mati, iya ing kene iki anane swarga lan naraka, tegese, bungah lan susah. Sawise kita ninggal donya iki, kita bali urip langgeng, ora ana bedane antarane ratu karo kere, wali karo bajingan.” (Kenyataannya, dunia ini alamnya orang mati, iya di dunia ini adanya surga dan neraka, artinya senang dan susah. Setelah kita meninggalkan alam dunia ini, kita kembali hidup langgeng, tidak ada bedanya antara yang berpangkat ratu dan orang miskin, wali ataupun bajingan”)

Dari pendapat Syech Siti Jenar itu kita bisa belajar, bahwa hidup di dunia ini yang serba berubah seperti roda (kadang berada di bawah, kadang berada di atas), besok mendapat kesenangan, lusa memperoleh kesusahan, dan itu bukanlah merupakan hidup yang sejati ataupun langgeng.

Wejangan beberapa leluhur mengatakan:
“Urip sing sejati yaiku urip sing tan keno pati”. (hidup yang sejati itu adalah hidup yang tidak bisa terkena kematian). Ya, kita semua bakal hidup sejati. Tetapi permasalahan yang muncul adalah, siapkah kita menghadapi hidup yang sejati jika kita senantiasa berpegang teguh pada kehidupan di dunia yang serba fana?

Ajaran para leluhur juga menjelaskan:
“Tangeh lamun siro bisa ngerti sampurnaning pati,
yen siro ora ngerti sampurnaning urip.”
(mustahil kamu bisa mengerti kematian yang sempurna,
jika kamu tidak mengerti hidup yang sempurna).

Oleh karena itu, kita wajib untuk menimba ilmu agar hidup kita menjadi sempurna dan mampu meninggalkan alam dunia ini menuju ke kematian yang sempurna pula.

Jumat, 10 Desember 2010

Dasar-dasar Logika


Logika
Pikiran manusia pada hakikatnya selalu mencari dan berusaha untuk memperoleh kebenaran. Karena itu pikiran merupakan suatu proses. Dalam proses tersebut haruslah diperhatikan kebenaran bentuk dapat berpikir logis. Kebenaran ini hanya menyatakan serta mengandaikan adanya jalan, cara, teknik, serta hukum-hukum yang perlu diikuti. Semua hal ini diselidiki serta dirumuskan dalam logika.
Secara singkat logika dapat dikataka sebagai ilmu pengetahuan dan kemampuian untuk berpikir lurus. Ilmu pengetahuan sendiri adalah kumpulan pengetahuan tentang pokok tertentu. Kumpulan ini merupakan suatu kesatuan yang sistematis serta memberikan penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Penjelasan ini terjadi dengan menunjukkan sebab musababnya.
Logika juga termasuk dalam ilmu pengetahuan yang dijelaskan diatas. Kajian ilmu logika adalah azas-azas yang menentukan pemikiran yang lurus, tepat, dan sehat. Agar dapat berpikir seperti itu, logika menyelidiki, merumuskan, serta menerapkan hukum-hukum yang harus ditepati. Hal ini menunjukkan bahwa logika bukanlah sebatas teori, tapi juga merupakan suatu keterampilan untuk menerapkan hukum-hukum pemikiran dalam praktek. Ini sebabnya logika disebut filsafat yang praktis.
Objek material logika adalah berfikir. Yang dimaksud berfikir disini adalah kegiatan pikiran, akal budi manusia. Dengan berfkir, manusia mengolah dan mengerjakan pengetahuan yang telah diperolehnya. Dengan mengolah dan mengerjakannya ia dapat memperoleh kebenaran. Pengolahan dan pegearjaan ini terjadi dengan mempertimbangkan, menguraikan, membandingkan, serta menghubungkan pengertian satu dengan pengertian lainnya.
Tetapi bukan sembarangan berfikir yang diselidiki dalam logika. Dalam logika berfikir dipandang dari sudut kelurusan dan ketepatannya. Karena berfikir lurus dan tepat merupakan objek formal logika. Suatu pemikiran disebut lurus dan tepat, apabila pemikirn itu sesuai dengan hukum-hukum serta aturan-aturan yang sudah ditetapkan dalam logika.
Dengan demikian kebenaran juga dapat diperoleh dengan lebih mudah dan aman. Semua ini menunjukkan bahwa logika merupakan suatu pegangan atau pedoman untuk pemikiran.
Macam-macam logika
Logika dapat dibedakan atas dua macam, namun keduanya tidak dapat dipisahkan.
a. Logika Kodratiah
Akal budi (pikiran) bekerja menurut hukum-hukum logika dengan cara spontan. Tetapi dalam hal-hal tertentu (biasanya dalam masalah yang sulit), akal budi manusia maupun seluruh diri manusia bisa dipengaruhi oleh keinginan-keinginan dan kecenderungan-kecenderungan yang subjektif. selain itu, perkembangan pengetahuan manusia sendiri sangat terbatas.
Hal-hal ini menyebabkan kesesatan tidak terhindarkan. Walaupun sebenarnya dalam diri manusia sendiri juga ada kebutuhan untuk menghindari kesesatan tersebut. Untuk menghindari kesesatan itulah, dibutuhkan ilmu khusus yang merumuskan azaz-azaz yang harus ditepati dalam setiap pemikiran, yaitu logika ilmiah.
b. Logika Ilmiah
Logika ini membantu logika kodratiah. Logika ilmiah memperhalus dan mempertajam akal budi, juga menolong agar akal budi bekerja lebih tepat, lebih teliti, lebih mudah, dan lebih aman. Dengan demikian kesesatan dapat dihindarkan, atau minimal bisa dikurangi dengan kadar tertentu. Logika inilah, yang dimaksud mempunyai hukum-hukum atau azaz-azaz yang harus ditepati.
Dalam penyelidikan hukum-hukum logika, dapat diuraikan bahwa pemikiran manusia terjadi tiga unsur. Yaitu pengertian-pengertian atau kata, kemudian kata atau pengetian itu disusun itu sedemikian tupa sehingga menjadi keputusan-keputusan.
Akhirnya keputusan-keputusan itu disusun menjadi penyimpulan-penyimpulan.

Jumat, 03 Desember 2010

SAKIT "eFBi"

Banyak orang maniak dengan situs jejaring sosial hingga membuat mereka menyepi dan jatuh ke jurang sosial. Sampai-sampai ada penyimpangan perilaku dikenal dengan Facebook addiction disorder (FAD) Tanda masuk jurang sosial:

Cina dan Amerika Serikat, harus membuka klinik terapi penyembuhan kecanduan Internet. Di Amerika Serikat, pada Juli 2009, dibuka program untuk rehabilitasi kecanduan Internet. Program selama 45 hari ini dibanderol US$ 14.500.
indikasi:
- Selalu membuka setidaknya tiga tab/window untuk mengakses situs jejaring sosial (Twitter/Facebook).
- Enggan tidur untuk tetap online.
- Jika akses ke situs jejaring sosial berkurang, Anda merasa gelisah, murung, depresi, atau mudah tersinggung.
- Kegiatan sosial di dunia nyata berkurang dan beralih ke situs jejaring sosial.
- Anda mulai mengungkapkan kasih sayang kepada orang tercinta melalui situs jejaring sosial daripada secara langsung.
- Anda memiliki teman banyak di situs jejaring sosial. Tapi daftar teman itu lebih      banyak yang tak Anda ketahui siapa mereka.
- Sering berbohong untuk menutupi aktivitas berjejaring sosial yang berlebih.
- Situs jejaring sosial jadi tempat pelarian dari masalah dan depresi.
- Kehidupan Anda berpindah ke dunia maya. Anda mulai mengungkapkan bahasa sehari-hari ke dalam situs jejaring sosial.
- Fisik berubah (berat badan naik, sakit punggung, sakit kepala).

Renungan


Nabi Muhammad Saw. telah memberi teladan yang sangat berharga bagi kita dalam mendengar "suara" diri. Sebelum menerima pesan-pesan samawi, beliau menyendiri di sebuah gua di Gunung Hira. Bukan apa-apa, tapi untuk mem-perkukuh jati diri, mempertajam mata hati, memfokuskan niat, membulatkan tekad, mengamati penciptaan, me-renungkan tanggung jawab yang bakal dipikulnya dan menghindari hiruk-pikuk dan kejemawaan warga Mekah.
Itulah sebabnya, be-liau tidak pernah mengenal kata mundur dan kompromi. Beliau tidak berstrategi de-ngan menipu-diri. Di hadapan kaum Quraisy yang menawar-kan harta, tahta, dan wanita, dengan lantang beliau ber-seru, "Demi Allah! Sekalipun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan berhenti melakukannya (dakwah)." Suatu pernyataan yang meletup dari keimanan, kejujuran, dan komitmen penuh pada diri sendiri.
Di Mekah, kita bisa membaca sejarah yang cukup unik. Yaitu sejarah penyiksaan. Contoh tragisnya ialah apa yang dialami Bilal. Ditengah terik matahari sahara, Bilal yang berada di bawahhimpitan batu besar hanya bisa bergumam, "Ahad! Ahad!" Begitu pula yang terjadi pada Ammar dan kedua orang-tuanya.
Mengapa? Bila diizinkan Nabi, tentu mereka akan melawan. Bila perlawanan mereka gagal, mereka bisa mereguk kesyahidan. Atau misalnya mengapa Nabi tidak cepat-cepat menyuruh mereka pergi dari Mekah? Mengapa Nabi tidak memerintahkan apa-apa? Inilah makna tertinggi dari metode dakwah Nabi. Dengan begitu, sebenarnya beliau hendak menjelaskan satu hal, tiada yang bisa diperbuat kalau itu tidak dimulai dengan penyadaran-diri dan internalisasi ajaran.
Penyadaran-diri akan apa yang sedang dan akan dilakukan.
Pada periode itu, tidak ada aktivitas Nabi selain pengajaran tentang tauhid. Suatu ajaran yang ingin membebaskan diri manusia dari keterpenjaraan pada hal-hal selain Allah. Tidak ada cara lain, kecuali masuk sepenuh hati ke jalan itu atau diri manusia akan ter-belit dalam sarang kepen-tingan, keinginan, harapan, fantasi, citra, dan lain sebagia-nya sebagai manifestasi dari disintegritas jiwa dan dirinya. Tanpa kesadaran seperti ini, manusia akan terjerembab dalam determinisme alam fisik dan gerak atomiknya.
 Kesa-daran ini membebaskan ma-nusia dari yang banyak, yang berubah-ubah, yang semen-tara, yang semu dan lain sebagainya dengan mengikat-kannya kepada Yang Maha Satu, Yang Maha Mutlak, Yang Maha Kekal, Yang Maha Nyata dan lain-lain. Hal ini karena manusia memang tidak akan bisa bebas, murni tanpa kendali sama sekali.
Islam mengajak manusia untuk menyayangi dan memperhatikan kondisi diri. Islam ingin me-nggugah manusia untuk bangkit melepaskan dirinya dari perasaan terkepung oleh pranata, definisi, konsep, waham, takhayul, fantasi, kekuatan, keberhasilan, kepahlawanan, kepentingan, perhatian, kekhawatiran dan tanggungjawab yang secara serampangan "diciptakannya" sendiri, dengan menuntunnya menuju jalan Ilahi yang Satu dan Tunggal. Jalan yang akan mengurai simpul-simpul kebodohan, paranoia dan kecemasan primordial yang tumbuh subur pada diri seorang yang merangkaki kehidupan tanpa "Kawan" dan Tuhan. Dalam kaitan ini, mengawali "perkenalannya" dengan manusia, Alquran berkata, "Bacalah dengan Nama Tuhanmu yang menciptakan" (QS. Al-Alaq, 96: 1). Artinya, jangan engkau mengigau ingin merancang cara hidupmu sendiri. Bila engkau merancangnya sediri, maka kebodohan, kelemahan, dan kecemasan primordialmu akan menjeratmu sendiri. Oleh karena itu, bacalah kehidupan ini dengan Nama Tuhan Sang Maha Pencipta yang Maha Mengetahui segala hal tentangmu.
Tidak pelak lagi, Islam sangat mewanti-wanti manusia untuk selalu melihat dan memperhitungkan diri sendiri. Semua jenis kerusakan, kezaliman, dan kerugian dilakukan dirinya sendiri. Tidak ada dosa yang terwujud, tanpa persetujuan diri manusia. Sebaliknya, tiada kebaikan hakiki yang dapat dipancarkan selain yang berasal dari diri manusia itu sendiri. "Energi positif" tidak akan menyebar dari sumber negatif yang penuh dengan polusi. Salah satu polutan yang dapat dibayangkan adalah apa yang saya sebut dengan massifikasi; pembodohan yang dilakukan secara sistematis lewat media massa.
Tidak terlalu sulit untuk membuktikan bahwa dalam hingar-bingar media massa, suara "diri" luput dari pendengaran. Teriakan massa membuat suara diri manusia terabaikan dan hanya dapat bergerak dalam gelombang yang amat rendah dan kecil.
Teriakan massa sering mengayunkan pemimpin gadungan ke puncak kekuasaan dan menenggelamkan pemimpin sejati dalam kawah pertanggungjawaban. Mereka menyuarakan ketidakadilan dengan keras, tinggi, dan merdu. Terlena olehnya, diri manusia tidak dapat menahan diri untuk berdansa mengiringi ritmenya yang centang-perenang.
Adalah memilukan mengamati kenyataan banyaknya cerdik-pandai yang terbuai oleh alunan "lagu-lagu massa". Banyaknya pemimpin yang membangun masjid dirinya di atas gerobak kepentingan masal. Banyaknya pemikir yang merajut falsafahnya dengan benang kusut kompromi dan tawar-menawar. Banyaknya kepulan asap budaya massa yang mengaburkan ketajaman mata jiwa. Gonjang-ganjing hasrat massa yang memabukkan diri manusia. Tersaruk-saruknya pemimpin sejati dalam koridor massifikasi. Terenggutnya inspirasi diri dalam jala massa. Kenyataan-kenyataan itu tidak jarang kita temukan dalam sejarah manusia sejak dahulu kala.
Kenyataan-kenyataan tersebut dapat disaksikan dalam bentuknya yang amat mencekam di era globalisasi ini. Gendam teknologi informasi membuat diri manusia terkubur makin dalam. Media massa menjajakan diri-diri ilusif sebagai alternatif terhadap diri manusia yang karam dalam kesunyi-senyapan. Globalisasi membawa gelombang alienasi yang lebih dahsyat dari yang pernah dibayangkan.
Citra-citra media massa modern telah mencampakkan diri dan jiwa manusia ke dalam suatu pertarungan di tingkat pandangan-dunia, agama, ideologi, budaya, sistem ekonomi, dan politik yang penuh intrik.
Suatu pertarungan yang sama sekali tidak mengenal aturan. Hukum-hukum dirumuskan oleh para pelanggarnya. Kawan adalah lawan. Lawan adalah kawan. Suara lawan didengar kawan. Nasihat kawan diabaikan teman. Para korban adalah para pahlawan. Hidup mereka mengundang decak kekaguman. Omong-kosong dielu-elukan. Ajaran dilecehkan. Nilai-nilai dijungkir-balikkan.
Bersamaan dengan jatuhnya nilai-nilai "lama", nilai-nilai "baru" ditanamkan. Keterampilan mengelola hak sesama, kekreatifan memperalat kecenderungan, keluwesan membodohi pelanggan, ketajaman indra menyorot mangsa, kemampuan memanfaatkan kelemahan, kelihaian bermain pedang persaingan, kecepatan merebut peluang, kefasihan bernegosiasi dusta dan lain sebagainya telah dideklarasikan sebagai nilai-nilai baru tersebut. Itulah sebagian nilai ekonomi, politik, dan hubungan internasional dalam pertarungan dan pergesekan global ini.
Nilai-nilai baru juga ditetapkan untuk agama, budaya, dan pandangan-dunia. Bahkan tidak satu bagianpun dari kehidupan manusia yang tidak dijadikan ajang pertempuran ini. Walau bagaimanapun juga, alih-alih dianggap merugikan, semua ini malah disepakati sebagai suatu pencapaian yang amat berarti bagi kemanusiaan.
Pertarungan ini keras-keras menampar kesadaran kita. Ia menghisap seluruh daya-upaya dan memaksa kita untuk mempersiapkan "diri". Memaksa kita untuk mengaktifkan diri agar tidak lumpuh otot-ototnya, tidak juling matanya, tidak pelat lidahnya, dan tidak tuli telinganya.
Pertarungan ini juga sejenis perbudakan dan penawanan. Penawanan "unsur luar" terhadap potensi-potensi diri manusia. Ia dapat berlangsung secara subtil, tidak terukur, dan chaotic. Karenanya, ia sepenuhnya "terampuni". Bahkan, tidak jarang yang meresapi proses itu sebagai budi dan jasa para "tuan" kepada para budak.
Pada tahap selanjutnya, para budak dan tawanan itu akan hidup layaknya tanaman hias yang tak pernah menguning daunnya, tapi juga tak pernah matang buahnya. Tanaman yang disiram, tapi tidak dapat berkembang. Tanaman yang tidak memiliki "akar"; tidak "radikal", dan tidak pula "fundamental". Tanaman mati yang tidak dibuang, malah dipajang sebagai hiasan. Perumpamaan di atas berkaitan dengan firman Allah yang berbunyi, "Tidakkah kamu menyimak bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti tanaman yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit * Tanaman ini memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat berbagai perempamaan itu bagi manusia supaya mereka menjadi engah * Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti tanaman yang buruk, yang tercerabut dari permukaan bumi dan tidak memiliki pijakan sedikitpun * " (QS. Ibrahim, 14: 24-26)
Pujian adalah polusi lain yang dapat memumuk berkembangnya diri palsu dalam batin manusia. Pujian menyembulkan kepalsuan dan kemunafikan diri dalam tatarias yang menawan. Apalagi bila pujian itu sudah mulai disakralkan dalam wacana keagamaan, sosial, politik dan kultural. Pujian, yang sangat bertentangan dengan semangat rasional dan pola pikir kritis, dapat meredam tuntutan fitrah kepada kebenaran dan kejujuran.
Tidak sekedar itu, tapi semua gaya hidup, kebiasaan dan formalitas massa. Banyak jiwa yang terseret dalam upacara-upacara mempertahankan status quo. Lingkungan sering menjadi awan hitam yang sangat kontraproduktif bagi perkembangan diri. Diri manusia ini akan banyak dikonsumsi para "produsen" status dan jabatan.
Pengamatan menunjukkan bahwa orientasi ekstrovertif ini, telah membawa malapetaka yang tiada tara bagi manusia modern. Apa guna menguasai dunia, tapi kehilangan diri sendiri ? Inilah fenomena paling menyimpang dalam kehidupan dewasa ini. Globalisasi telah menarik perhatian manusia dari dirinya sendiri menuju hiruk-pikuk global.
Benar bahwa lingkungan global dapat menjadi sumber pengetahuan dan pengalaman, tapi suara diri adalah yang paling sejati dan jujur. Ekspresi kebenaran, kebaikan dan keindahan diri manusia tidak boleh larut dalam tinta koran, gelombang radio dan sorotan kamera. Musik diri mesti selalu didendangkan.
Manusia yang tidak dapat mendengar suara yang berasal dari dirinya akan kehilangan teman sejatinya. Manusia pertama-tama mesti mengenali dirinya sebelum selainnya. Bersahabat dengannya sebelum dengan selainnya. Manusia yang merasa memiliki teman yang banyak, tetapi kehilangan dirinya, akan selalu merasa kesepian. Dia akan ngeri menyendiri, menemukan alienasi dan keterasingannya sendiri. Ngeri melihat dirinya tergeletak dalam kesepian dan kekosongan ekspresi. Cermin diri mesti selalu digosok dari segala debu dan kotoran yang melekat. Cermin diri manusia modern telah banyak retak oleh benturan global.
Jangan menjadi manusia yang membangun rumahnya di atas "tanah" orang lain. Bagaimanapun, suatu hari dia akan terbangun dan meninggalkannya buat si pemilik tanahnya. Paling banter, dia mendapat sejumput rejeki sebagai pengganti.
Jangan melulu hidup untuk kulit dan daging yang membalut. Tubuh adalah juga "makhluk" asing yang menempel pada diri. Tubuh tidak segan-segan menyiksa dan menyakiti diri. Pamer dan gemar tubuh justru akan mengubur diri sejati. Parfum yang mengucuri tubuh, takkan mampu menghilangkan bau busuk bangkainya. Sebaliknya, semerbak wangi parfum diri akan tercium selamanya.
Diri juga dapat "pecah" dalam peperangan batin, bila tentara-tentara "asing" menyeruduk ke dalamnya. Diri hakiki dan sejati manusia itu merupakan hembusan dan nafas Ilahi. Diri sejati ialah yang menyukai pengetahuan dan keyakinan serta membenci kebodohan dan kesesatan, karena ia berasal dari Sang Maha Tahu nan Mutlak. Diri yang mencari keindahan Sang Maha Indah. Diri yang mencegah nista karena Sang Maha Agung nan Luhur. Diri yang menghindari kelemahan, karena berasal dari Sang Maha Kuat. Diri yang bersikap derwaman sebab hidup dengan "nafas" rahmany. Inilah diri yang mesti kita ikuti perintahnya, jaga kepentingannya, iringi ritmenya, simak nyanyiannya dan lagukan puisinya. Kita mesti bersedih dan bergembira untuknya.
Diri itulah yang secara intrinsik dan otentik akan menebarkan energi positif dalam kehidupan, baik perorangan maupun kemasyarakatan. Sang Maha Sempurna akan selalu menambahkan energi padanya. Diri itu juga secara mandiri akan merobohkan berhala-berhala kekuatan yang lalim dan sewenang-wenang. Tapi, ia tidak butuh dukungan, teman atau pasukan untuk melakukan apa yang dilakukannya. Ia akan menghapuskan kebodohan, kemiskinan, kebangkrutan, kedengkian, kebohongan, kesombongan dan kebencian bagi masyarakat sekitarnya. Sebab ia "berasal" dari Sang Maha Tahu, Maha Mandiri, Maha Kaya, Maha Agung, Maha Kuat dan lain sebagainya.

Minggu, 05 September 2010

Gara-gara Sekolah, jadi Stress



Gara-gara sekolah, saya sekarang jadi kacau. Bayangin aja, waktu kecil, saya sudah belajar mengancam : -lagu ninabobo : ".... kalau tidak bobo digigit nyamuk..", terus TK diajarin kejam :-lagu siKancil :" Si kancil anak nakal..... ayo ...lekas dikurung, jangan diberi ampun" (Gusti Allah aja mengampuni dosa yang jauh lebih berat dari itu ). Lalu juga di ajarin bohong -Lagu Hujan :." tik-tik- tik bunyi hujan di atas genteng...... -pohon dan kebun basah semua.."( katanya yang kena hujan kan genteng, masa yang basah pohon dan kebun, nah bohong kan?).  
SD dididik berpikir tidak konsisten - Lagu Kapiten : " ... mempunyai pedang panjang, kalau berjalan prok-prok prok... " ( lho, masa lagi cerita pedang kok tiba tiba melenceng ke masalah sepatu, mestinya kan mempunyai pedang panjang, keterangannya ya tentang pedang lah, ) . Juga diajarin bikin bangkrut PJKA : -lagu Kereta Api : "...ke Bandung, Surabaya.., bolehlah naik dengan PERCUMA .." ( Nah ! )Lalu berbuat sia-sia.: Lagu Puncak Gunung : Naik kepuncak gunung tinggi-tinggi sekali.. kiri-kanan KULIHAt Saja..." ( dah capek-capek naik, eh sampe di atas ya ngapain kek, masa cuma celingukan doang, bloon amat.).. waaah, dah lah, sTreeeessszzz !!!

Kamis, 02 September 2010

Perang !

Ramadhan kali ini begitu banyak orang meneriakkan kata "Perang".
Sepertinya sangat memahami kata itu.
Sepertinya kita sudah sangat solid dan kuat untuk melakukannya.
Kuat, karena materialisme yang mendarah daging, dihayati dengan kalkulator. 
Jumlah tentara, persenjataan, untung rugi perekonomian, adalah pernyataan kalkulator.
Jika kriteria yang terukur kalkulator itu lebih besar dari kesiapan lawan, apakah ada jaminan pasti bahwa perang akan dapat dimenangkan?

eling-eling..

Banyak orang sering mendustai diri mereka sendiri atau menghabiskan waktu dengan sesuatu yang tak mereka sukai, meskipun sedikit sekali dari mereka yang merasa bersalah dengan kebohongan yang mereka lakukan.

Senin, 24 Mei 2010

Faktor Penyebab Narsistik

Faktor Penyebab Narsistik

Terdapat pelbagai faktor penyebab seseorang cenderung menjadi narsis. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah faktor keturunan dan faktor kultur setempat. Narsis biasanya timbul akibat daripada pujian dan penghormatan yang diterima berulang kali daripada individu lain.
Sebagai contoh, seseorang akan berasa dirinya cantik karena acapkali menerima pujian bahawa dirinya cantik meskipun pada awalnya dia tidak merasa dirinya sedemikian. Narsis tidak hanya termanifestasi pada perilaku yang gemar memuji dirinya sendiri, kerap menghadap cermin atau kerap bergaya persis model, tetapi juga terdapat implikasi lain daripada sikap narsis itu sendiri.
Mitchell JJ dalam bukunya, The Natural Limitations of Youth, bilang ada lima penyebab kemunculan narsis pada remaja, yaitu adanya kecenderungan mengharapkan perlakuan khusus, kurang bisa berempati sama orang lain, sulit memberikan kasih sayang, belum punya kontrol
moral yang kuat, dan kurang rasional. Kedua aspek terakhir inilah yang paling kuat memicu narsisme yang berefek gawat.
Sedangkan tanda-tanda narsis dari Diagnostics and Statistics Manual, Fourth Edition-Text Revision (2000) yang harus kita waspadai untuk tahu apakah kita mengidap narsis atau tidak. Orang
narsis merasa dirinya sangat penting dan ingin sekali dikenal oleh orang lain karena
kelebihannya. Pengidap narsis juga yakin kalau dirinya unik dan istimewa.

Pokoknya tidak ada yang bisa menyamai dirinya. Sisi sering dianggap teman- temannya suka memuji-muji diri sendiri.
Gejala lain, mereka selalu ingin dipuji dan diperhatikan. Mereka kurang sensitif terhadap kebutuhan orang lain karena yang ada dalam pikirannya cuma diri sendiri. Ditambah lagi, adanya rasa percaya orang lain itu berpikiran sama dengan dirinya.
Orang narsis juga sensitif sekali kalau dikritik. Kritikan kecil bisa berarti sangat besar buat mereka.
Pengertian Narsis
Pakar psikoanalisis, Sigmund Freud, dalam artikel On Narcissism, An Introduction
(Kompas, 08/01/2006) mencoba membedakan cara laki-laki dan  perempuan jatuh cinta. Dalam artikel tersebut disebutkan bahwa laki-laki dalam masa perkembangan, oedipal meletakkan dasar cinta kasihnya pada keeratan ikatan emosional dengan kasih ibu pada masa kanak-kanak yang terbentuk manakala ibu memuaskan kebutuhan narsistiknya melalui perawatan ibu. Dengan demikian, laki-laki akan memilih objek cinta kasihnya berdasar pada cara ibu yang tanpa pamrih melayani, merawat, dan memenuhi kebutuhannya. Biasanya, masa kecil pribadi narsistik ditandai oleh pemanjaan berlebihan dari ibu, terlampau disanjung dan dibanggakan berlebihan. Seorang narsistik akan menunjukkan perilaku self-centered, kecuali itu kebutuhannya adalah yang terpenting.
Sedangkan Fromm berpendapat, narsisme merupakan kondisi pengalaman seseorang yang dia rasakan sebagai sesuatu yang benar-benar nyata hanyalah tubuhnya, kebutuhannya, perasaannya, pikirannya, serta benda atau orang-orang yang masih ada hubungan dengannya.
Sebaliknya, orang atau kelompok lain yang tidak menjadi bagiannya senatiasa dianggap tidak nyata, inferior, tidak memiliki arti, dan karenanya  tidak perlu dihiraukan. Bahkan, ketika yang lain itu dianggap sebagai ancaman, apa pun bisa dilakukan, melalui agresi sekalipun (
Pikiran Rakyat, 14/04/2003).
Menurut Spencer A Rathus dan Jeffrey S Nevid dalam bukunya, Abnormal Psychology (2000), orang yang narcissistic atau narsistik memandang dirinya dengan cara yang berlebihan.
 Mereka senang sekali menyombongkan dirinya dan berharap orang lain memberikan pujian.

Senin, 29 Maret 2010

JANGKA JAYABAYA


1. Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran 
2. Tanah Jawa kalungan wesi 
3. Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang   4. Kali ilang kedhunge 
5. Pasar ilang kumandhang 
6. Iku tandha yen tekane zaman Jayabaya wis cedhak 
7. Bumi saya suwe saya mengkeret 
8. Sekilan bumi dipajeki    9. Jaran doyan mangan sambel 
10. Wong wadon nganggo pakeyan lanang 
11. Iku tandhane yen wong bakal nemoni wolak-waliking zaman 
12. Akeh janji ora ditetepi 
13. Akeh wong wani nglanggar sumpahe dhewe  
14. Ora ngendahake hukum Allah 
15. Barang jahat diangkat-angkat 
16. Barang suci dibenci  
17. Akeh manungsa mung ngutamakke dhuwit 
18. Lali kamanungsan 
19. Lali kabecikan     20. Lali sanak lali kadang 
21. Akeh bapa lali anak  22. Akeh anak wani nglawan ibu
23. Nantang bapa  24. Sedulur padha cidra   25. Kulawarga padha curiga
26. Kanca dadi mungsuh   27. Akeh manungsa lali asale 
28. Ukuman Ratu ora adil 29. Akeh pangkat sing jahat lan ganjil 30. Akeh kelakuan sing ganjil 
31. Wong apik-apik padha kapencil 32. Akeh wong nyambut gawe apik-apik padha krasa isin 
33. Luwih utama ngapusi 34. Wegah nyambut gawe 35. Kepingin urip mewah 
36. Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka 37. Wong bener thenger-thenger 
38. Wong salah bungah 39. Wong apik ditampik-tampik 40. Wong jahat munggah pangkat 
41. Wong agung kasinggung 42. Wong ala kapuja 43. Wong wadon ilang kawirangane 
44. Wong lanang ilang kaprawirane 45. Akeh wong lanang ora duwe bojo 
46. Akeh wong wadon ora setya marang bojone 47. Akeh ibu padha ngedol anake 
48. Akeh wong wadon ngedol awake 49. Akeh wong ijol bebojo 50. Wong wadon nunggang jaran  51. Wong lanang linggih plangki 52. Randha seuang loro 53. Prawan seaga lima
54. Dhudha pincang laku sembilan uang 55. Akeh wong ngedol ngelmu
 56. Akeh wong ngaku-aku 57. Njabane putih njerone dhadhu 
58. Ngakune suci, nanging sucine palsu 59. Akeh bujuk akeh lojo 60. Akeh udan salah mangsa 
61. Akeh prawan tuwa 62. Akeh randha nglairake anak 
63. Akeh jabang bayi lahir nggoleki bapakne 64. Agama akeh sing nantang 
65. Prikamanungsan saya ilang 66. Omah suci dibenci 67. Omah ala saya dipuja
68. Wong wadon lacur ing ngendi-endi  69. Akeh laknat 70. Akeh pengkianat 
71. Anak mangan bapak 72. Sedulur mangan sedulur 73. Kanca dadi mungsuh 74. Guru disatru 
75. Tangga padha curiga 76. Kana-kene saya angkara murka 77. Sing weruh kebubuhan 
78. Sing ora weruh ketutuh 79. Besuk yen ana peperangan 
80. Teka saka wetan, kulon, kidul lan lor 81. Akeh wong becik saya sengsara 
82. Wong jahat saya seneng 83. Wektu iku akeh dhandhang diunekake kuntul  
84. Wong salah dianggep bener 85. Pengkhianat nikmat 86. Durjana saya sempurna 
87. Wong jahat munggah pangkat 88. Wong lugu kebelenggu 89. Wong mulya dikunjara 
90. Sing curang garang 91. Sing jujur kojur 92. Pedagang akeh sing keplarang  
93. Wong main akeh sing ndadi 94. Akeh barang haram 95. Akeh anak haram  
96. Wong wadon nglamar wong lanang 97. Wong lanang ngasorake drajate dhewe   
98. Akeh barang-barang mlebu luang 99. Akeh wong kaliren lan wuda  
100. Wong tuku ngglenik sing dodol
101. Sing dodol akal okol 102. Wong golek pangan kaya gabah diinteri 103. Sing kebat kliwat 
104. Sing telah sambat 105. Sing gedhe kesasar 106. Sing cilik kepleset 107. Sing anggak ketunggak 108. Sing wedi mati 109. Sing nekat mbrekat 110. Sing jerih ketindhih 
111. Sing ngawur makmur 112. Sing ngati-ati ngrintih 113. Sing ngedan keduman 
114. Sing waras nggagas 115. Wong tani ditaleni 116. Wong dora ura-ura 
117. Ratu ora netepi janji, musna panguwasane 118. Bupati dadi rakyat 
119. Wong cilik dadi priyayi 120. Sing mendele dadi gedhe 121. Sing jujur kojur 
122. Akeh omah ing ndhuwur jaran 123. Wong mangan wong 124. Anak lali bapak 
125. Wong tuwa lali tuwane 126. Pedagang adol barang saya laris 127. Bandhane saya ludhes 
128. Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan 
129. Akeh wong nyekel bandha nanging uripe sangsara 130. Sing edan bisa dandan 
131. Sing bengkong bisa nggalang gedhong 
132.Wong waras lan adil uripe nggrantes lan kepencil  133. Ana peperangan ing njero 
134. Timbul amarga para pangkat akeh sing padha salah paham 
135. Durjana saya ngambra-ambra 
136. Penjahat saya tambah 
137. Wong apik saya sengsara 
138. Akeh wong mati jalaran saka peperangan 
139. Kebingungan lan kobongan 
140. Wong bener saya thenger-thenger 
141. Wong salah saya bungah-bungah 
142. Akeh bandha musna ora karuan lungane, 
akeh pangkat lan drajat pada minggat ora karuan sababe 
143. Akeh barang-barang haram, akeh bocah haram 
144. Bejane sing lali, bejane sing eling 
145. Nanging sauntung-untunge sing lali 
146. Isih untung sing waspada 
147. Angkara murka saya ndadi 
148. Kana-kene saya bingung 149. Pedagang akeh alangane 150. Akeh buruh nantang juragan
151. Juragan dadi umpan 152. Sing suwarane seru oleh pengaruh 
153. Wong pinter diingar-ingar 154. Wong ala diuja 155. Wong ngerti mangan ati 
156. Bandha dadi memala 
157. Pangkat dadi pemikat 158. Sing sawenang-wenang rumangsa menang 
159. Sing ngalah rumangsa kabeh salah 160. Ana Bupati saka wong sing asor imane 
161. Patihe kepala judhi 162. Wong sing atine suci dibenci 
163. Wong sing jahat lan pinter jilat saya derajat 164. Pemerasan saya ndadra 
165. Maling lungguh wetenge mblenduk 166. Pitik angrem saduwure pikulan 
167. Maling wani nantang sing duwe omah 168. Begal pada ndhugal 
169. Rampok padha keplok-keplok 170. Wong momong mitenah sing diemong 
171. Wong jaga nyolong sing dijaga 172. Wong njamin njaluk dijamin 
173. Akeh wong mendem donga 174. Kana-kene rebutan unggul
175. Angkara murka ngombro-ombro 176. Agama ditantang 177. Akeh wong angkara murka 
178. Nggedhekake duraka 179. Ukum agama dilanggar
180. Prikamanungsan di-iles-iles 181. Kasusilan ditinggal 
182. Akeh wong edan, jahat lan kelangan akal budi 183. Wong cilik akeh sing kepencil 
184. Amarga dadi korbane si jahat sing jajil 185. Banjur ana Ratu duwe pengaruh lan duwe prajurit 186. Lan duwe prajurit 187. Negarane ambane saprawolon 188. Tukang mangan suap saya ndadra 189. Wong jahat ditampa 190. Wong suci dibenci 191. Timah dianggep perak 
192. Emas diarani tembaga 
193. Dandang dikandakake kuntul 194. Wong dosa sentosa 195. Wong cilik disalahake 
196. Wong nganggur kesungkur 197. Wong sregep krungkep 
198. Wong nyengit kesengit 199. Buruh mangluh  200. Wong sugih krasa wedi 
201. Wong wedi dadi priyayi 202. Senenge wong jahat 203. Susahe wong cilik 
204. Akeh wong dakwa dinakwa 205. Tindake manungsa saya kuciwa
206. Ratu karo Ratu pada rembugan negara endi sing dipilih lan disenengi 
207. Wong Jawa kari separo 208. Landa-Cina kari sejodho
209. Akeh wong ijir, akeh wong cethil 210. Sing eman ora keduman 
211. Sing keduman ora eman 212. Akeh wong mbambung 213. Akeh wong limbung  
214. Selot-selote mbesuk wolak-waliking zaman teka. ||

======================================================================

Sabtu, 27 Februari 2010

YURI PRABOWO

Musik merupakan suatu wahana dalam menyalurkan aspirasi dan meredam amarah, dan lain sebagainya, tanpanya mungkin kita akan jenuh. Mulailah bermusik dimulai dari hati, pikiran, dan perasaan. Tentukan tujuan hidup, ingin konsetrasi bermusik atau ingin melakukan hal yang lain, supaya tidak sia-sia. Mulailah dengan mendengarkan banyak jenis aliran musik:
1. mulai dari yang lembut (classical mozart, jazz, blue, dll) atau yang keras (rock, metal, hardcore, alternative, dll),
2. mulai dari yang lambat/sederhana atau cepat/rumit (heavy metal, baroque classical, proggresif, dll)
3. mulai dari komirsiil atau underground (Indie lable, rock, metal),
4. mulai dari yang eksklusif atau yang merakyat
5. mulai dari Live-nya yang mahal(Artis tenar, pop yang sudah tenar, classical orchestra) atau yang murah
Jika sudah sering mendengar dan sangat suka musiknya tidak salah jika ingin diterapkan, apabila keinginan itu muncul kita dapat melakukan:
1. mendengarkan nada-nya, lalu memainkannya dengan alat musik
2. mendengarkan ketukannya,
3. mencari lyricnya lalu berusaha menyanyikan,
4. membuat lagu baru jika sudah jenuh dengan lagu tersebut.
Jika sudah siap apresiasi musik cobalah untuk cari teman yang bisa membantu mewujudkan keinginan anda, kalau kata vokalis Ironmaden "musik-mu jangan hanya didengar olehmu sendiri, tapi bagikan/dengarkan kepada orang lain", siapa tau musikmu memberikan inspirasi positif bagi orang lain.
Usahakan untuk enjoy dan tidak memaksakan kreatifitas bermusik kita. Dan mulailah dari sedikit dan hal kecil.
Jika sudah menentukan pilihan dan mau berkecimpung maka harus serius, berdedikasi, dan tidak setengah-setengah, supaya tidak buang-buang waktu dan ga dapat apa-apa. Kalau hanya untuk hilangkanstress baiknya rekam setiap permainanmu dengan recorder, lalu dengar kembali untuk merasakan kembali sejauhmana kualitas bermusik kita.

PENGARUH BUDAYA THD KEPRIBADIAN

 .
Budaya merupakan salah satu unsur dasar dalam kehidupan social. Budaya mempunyai peranan penting dalam membentuk pola berpikir dan pola pergaulan dalam masyarakat, yang berarti juga membentuk kepribadian dan pola piker masyarakat tertentu. Budaya mencakup perbuatan atau aktivitas sehari-hari yang dilakukan oleh suatu individu maupun masyarakat, pola berpikir mereka, kepercayaan, dan ideology yang mereka anut.
Tentu saja pada kenyataannya budaya antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya berbeda, terlepas dari perbedaan karakter masing-masing kelompok masyarakat ataupun kebiasaan mereka. Realitas yang multi budaya ini dapat kita jumpai di negara-negara dengan komposisi penduduk yang terdiri dari berbagai etnis, seperti Indonesia, Uni Soviet (sekarang, Rusia), Yugoslavia (sekarang terpecah menjadi beberapa Negara) dan lain-lainnya. Kondisi Negara dengan komposisi multi budaya rentan terhadap konflik dan kesenjangan social. Memang banyak factor yang menyebabkan terjadinya berbagai konflik tersebut, akan tetapi sebagai salah satu unsur dasar dalam kehidupan social, budaya mempunyai peranan besar dalam memicu konflik.

Teori Kebudayaan
Secara umum kebudayaan banyak diartikan sebagai hasil karya manusia yang lahir dari cipta, rasa dan karsa. Berikut ada empat teori dan pendekatan kebudayaan, yaitu:
1. Memandang kebudayaan sebagai kata benda: Dalam arti lewat produk budaya kita mendenifisikan dan mengelola kebudayaan itu. Teori produk budaya ini juga penting karena semua hasil budaya yang ada di muka bumi merupakan produk budaya kolektif manusia. Identitas budaya dapat dilihat dari pendekatan ini.
2. Memandang kebudayaan sebagai kata kerja: Pendekatan ini dikemukakan oleh Pleh Van Peursen. Pendekatan ini juga penting untuk dipahami, karena akan mampu menjelaskan kepada kita bagaimana proses-proses budaya itu terjadi di tengah kehidupan kita. Produk-produk budaya yang kita pahami lewat pendekatan pertama di atas ternyata juga menyiratkan adanya proses-proses budaya manusia yang oleh Van Peursen disebut ada tiga terminal proses budaya. Kehidupan mistis dimana mitos berkuasa, atau kuasa mitos mengemudikan arah kebudayaan suatu masyarakat, dilanjutkan dengan hadirnya kehidupan ontologis dan yang terakhir adalah kehidupan fungsional yang hari-hari ini lebih mendominasi kehidupan budaya kita.
3. Memandang kebudayaan sebagai kata sifat: Ini untuk membedakan mana kehidupan yang berbudaya dan tidak berbudaya, membedakan antara kehidupan manusia yang berbudaya dan makhluk lain seperti hewan dan benda-benda yang tidak memiliki potensi budaya. Dalam memandang kebudayaan sebagai kata sifat maka unsur nilai-nilai menjadi sangat penting. Kebudayaan dikonstruksi sebagai konfigurasi nilai-nilai atau sebagai kompeksitas nilai-nilai yang kemudian beroperasi pada berbagai-bagai level kehidupan. Konfigurasi nilai yang dimiliki berbagai komunitas budaya yang berbeda kemudian melahirkan konstruksi budaya yang berbeda-beda pada komunitas budaya itu.
4. Memandang kabudayaan sebagai kata keadaan: Kondisi-kondisi budaya tertentu menjadi menentukan wajah kebudayaan.


Ragam dan Unsur-Unsur Budaya
Setiap kelompok masyarakat punya tradisi dan kebudayaan tersendiri, yang tentu saja berbeda satu sama lainnya. Kebudayaan-kebudayaan yang lebih sempurna dari suatu masyarakat yang nantinya akan dapat menjadi sebuah peradaban. Namun, walaupun masing-masing mempunyai keunikan tersendiri, budaya terdiri dari unsur-unsur dan mempunyai fungsi-fungsi tersendiri bagi masyarakatnya.

Kebudayaan setiap bangsa atau masyarakat terdiri dari unsur-unsur besar maupun unsur-unsur kecil yang merupakan bagian dari suatu kebulatan yang bersifat kesatuan. Misal dalam kebudayaan Indonesia dapat dijumpai unsur besar seperti umpamanya seperti Majelis Permusyawaratan Rakyat di samping adanya unsur-unsur kecil, seperti sisir, kancing, baju, peniti, dan lain-lainnya yang dijual di pinggir jalan. Marville J. Herskovits mengajukan 4 unsur pokok kebudayaan, yaitu:

1. alat-alat teknologi,
2. sistem ekonomi,
3. keluarga, dan
4. kekuasaan polotik.

Sementara Bronislaw Malinowski yang terkenal sebagai salah seorang pelopor teori fungsional dalam anthropologi, menyebut unsur-unsur pokok kebudayaan sebagai berikut:

1. system norma yang memungkinkan kerjasama antara para anggota masyarakat di dalam upaya menguasai alam sekelilingnya,
2. organisasi ekonomi
3. alat-alat dan lembaga atau petugas pendidikan; perlu diingat bahwa keluarga merupakan pendidikan yang utama, dan
4. organisasi kekuatan.

Pada intinya para ahli menunjuk pada adanya 7 unsur kebudayaan yang dianggap sebagai cultural universals, yaitu:

1. Peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga, senjata, alat-alat produksi, transportasi, dan sebagainya).
2. Mata pencaharian hidup dan system-sistem ekonomi (pertanian, peternakan, system produksi, system distribusi dan sebagainya).
3. Sistem kemasyarakatan (system kekerabatan organisasi politik, system hokum, system perkawinan).
4. Bahasa (lisan maupun tertulis).
5. Kesenian (seni rupa, seni suara, seni gerak, dan sebagainya).
6. Sistem pengetahuan dan pendidikan.
7. Religi (system kepercayaan).

Cultural-universals tersebut di muka, dapat dijabarkan lagi ke dalam unsur-unsur yang lebih kecil. Ralph Linton menyebutnya kegiatan-kegiatan kebudayaan atau cultural activity. Sebagai contoh, cultural universals pencaharian hidup dan ekonomi, antara lain mencakup kegiatan-kegiatan seperti pertanian, peternakan, system produksi, system distribusi, dan lain-lain. Kesenian misalnya, meliputi kegiatan-kegiatan seperti seni tari, seni rupa, seni suara, dan lain-lain. Selanjutnya Ralph Linton merinci kegiatan-kegiatan kebudayaan tersebut menjadi unsur-unsur yang lebih kecil lagi yang disebutnya trait-complex. Misalnya, kegiatan pertanian menetap meliputi unsur-unsur irigasi, system mengolah tanah dengan bajak system hak milik atas tanah dan lain sebagainya. Selanjutnya trait-complex mengolah tanah dengan bajak, akan dapat dipecah-pecah ke dalam unsur-unsur yang lebih kecil lagi, umpamanya hewan-hewan yang menarik bajak, teknik mengendalikan bajak dan seterusnya. Akhirnya sebagai unsur kebudayaan terkecil yang membentuk traits, adalah items.

Kebudayaan, selain memiliki unsur-unsur pokok, juga mempunyai sifat hakikat. Sifat hakikat kebudayaan ini berlaku umum bagi semua kebudayaan di manapun juga, walaupun kebudayaan setiap masyarakat berbeda satu dengan lainnya. Sifat hakikat kebudayaan tersebut ialah sebagai berikut:

1. Kebudayaan terwujud dan tersalurkan lewat perilaku manusia.
2. Kebudayaan telah ada terlebih dahulu mendahului lahirnya suatu generasi tertentu, dan tidak akan mati dengan habisnya usia generasi yang bersangkutan.
3. Kebudayaan diperlukan oleh manusia dan diwujudkan dalam tingkah-lakunya.
4. Kebudayaan mencakup aturan-aturan yang berisikan kewajiban-kewajiban, tindakan-tindakan yang diterima dan ditolak, tindakan-tindakan yang dilarang dan tindakan-tindakan yang diizinkan.

Gerak Kebudayaan
Gerak kebudayaan adalah gerak manusia yang hidup dalam masyarakat yang menjadi wadah kebudayaan tadi. Gerak manusia terjadi oleh sebab hubungan-hubungan yang terjadi antar terjadi kelompok masyarakat. Kebudayaan suatu kelompok manusia jika dihadapkan pada unsur-unsur suatu kebudayaan asing yang berbeda, lambat laun akan diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian manusia itu sendiri. Proses itu dinamakan akulturasi. Dalam proses akulturasi ada unsur-unsur kebudayaan asing yang mudah diterima seperti: unsur kebendaan ( alat tulis menulis ), unsur-unsur yang membawa manfaat besar untuk mass media ( radio transistor ) dan unsur yang mudah disesuaikan dengan keadaan masyarakat yang menerima unsur-unsur tersebut ( penggiling padi yang dengan biaya murah serta pengetahuan teknis yang sederhana. Sedangkan unsur-unsur kebudayaan yang sulit diterima misalnya: unsur yang menyangkut kepercayaan ( ideologi, falsafah hidup ) dan unsur-unsur yang dipelajari pada taraf pertama proses sosiologi (contoh : nasi ). Pada umumnya generasi muda adalah individu yang dapat dengan cepat menerina unsur-unsur kebudayaan asing yang masuk melalui proses akulturasi. Sebaliknya generasi tua, lebih sukar. Hal ini disebabkan karena pada generasi tua, norma-norma yang tradisional sudah internalized (mendarah daging, menjiwai) sehingga sukar untuk mengubahnya.

Definisi Kepribadian
Sejak dahulu para ahli biologi yang mempelajari perilaku dan membuat pelukisan tentang sistem organisme dari suatu spesies mulai dari prilaku mencari makan, menghindari ancaman bahaya, menyerang musuh, beristirahat, mencari pasangan, kawin dan lain-lain. Berbeda dengan organism hewan, organisme manusia juga dipelajari oleh para ahli sampai pada hal yang terkecil. Namun hal itu tidak dapat menentukan pola tingkah lakunya.

Pola-pola tingkah laku tersebut hampir semua tidak sama bahkan bagi semua jenis ras yang ada di bumi. Hal tersebut tidak dapat diseragamkan karena seorang manusia yang disebut homo sapiens bukan saja ditentukan oleh sistem organik biologinya saja, namun dipengaruhi juga oleh akal dan jiwa sehingga timbul variasi pola tingkah laku tersebut. Melihat hal tersebut, maka para ahli lebih fokus kepada pola tindakan manusia. Dengan pola tingkah laku yang lebih khusus yang ditentukan oleh nalurinya, dorongan-dorongan, dan refleksnya. Susunan unsur-unsur akal dan jiwa yang menentukan tingkah laku atau tindakan seorang individu disebut “ Kepribadian “. Dalam bahasa populer istilah kepribadian juga berarti ciri-ciri watak yang konsisten, sehingga seorang individu memiliki suatu identitas yang khas berbeda dengan individu yang lain. Konsep kepribadian yang lebih spesifik belum bisa di definisikan sampai sekarang karena luasnya cakupan dan sulit untuk dirumuskan dalam satu definisi sehingga cukup kiranya untuk kita memakai arti yang lebih kasar sampai didapatkan definisi yang sebenarnya dari para ahli psikologi.

Unsur – Unsur dan Aneka Warna Kepribadian
Pengetahuan, unsur-unsur yang mengisi akal dan alam jiwa orang yang sadar, terkandung di dalam otaknya secara sadar. Manusia memiliki panca indra yang sebagai alat penerima dari setiap kondisi dan situasi di alam sekitarnya yang mengalami proses fisik, fisiologi, psikologi sehingga getaran dan tekanan dari alat penerima tersebut nantinya diproyeksikan atau dipancarkan kembali oleh individu tersebut berupa gambaran lingkungan sekitar yang dalam ilmu antropologi disebut “ Persepsi “. Penggambaran tersebut dapat menjadi bayangan dimana individu tersebut berfokus.

Penggambaran tentang situasi dan kondisi lingkungan dengan fokus pada bagian-bagian yang menarik dan mendapat perhatian lebih akan diolah oleh akal dan dihubungkan dengan penggambaran yang sejenis dan diproyeksikan oleh akal dan muncul kembali menjadi kenangan. Pengambaran baru dengan pengertian baru dalam psikologi disebut “ apersepsi”. Penggambaran yang terfokus secara lebih intensif yang terjadi karena pemusatan yang lebih intensif dalam psikologi disebut “pengamatan”. Seseorang dapat menggabungkan dan membandingkan bagian-bagian dari suatu penggambaran yang sejenis secara konsisten dan azas tertentu. Dengan kemampuan proses akal tersebut membentuk penggambaran baru yang abstrak yang tidak mirip dengan berbagai macam bahan konkret dari penggambaran yang baru tadi. Penggambaran abstrak tadi dalam ilmu sosial disebut “konsep”. Cara pengamatan yang secara sengaja dibesar-besarkan atau ditambahi atau di kurangi pada bagian tertentu sehingga membentuk penggambaran yang sangat baru yang secara nyata sebenarnya tidak pernah ada dan terkesan tidak realistik disebut “fantasi“. Keinginan yang semakin menggebu-gebu untuk mendapatkan sesuatu yang telah di gambarkan terlebih dahulu akan menimbulkan suatu perasaan yang aneh dan tekanan jiwa. Seluruh penggambaran, apersepsi, persepsi, pengamatan, konsep, dan fantasi merupakan unsur pengetahuan yang secara sengaja dimiliki seorang individu. Namun semua itu bisa hilang dari akalnya yang sadar yang disebabkan oleh berbagai hal yang sampai saat ini masih dipelajari oleh ahli psikologi. Unsur pengetahuan tersebut bukannya hilang atau lenyap namun terdesak ke bagian jiwanya yang dalam ilmu psikologi disebut “alam bawah sadar”.

Di alam bawah sadar tersebut, pengetahuan seseorang tercampur, terpecah-pecah menjadi bagian yang tercampur aduk tidak teratur. Ini dikarenakan akal sadar seseorang tidak mau menyusunnya dengan rapi sehingga adalakanya muncul sacara tiba-tiba secara utuh atau terpotong bercampur dengan pengetahuan yang berbeda. Adakalanya pengetahuan seseorang secara sengaja atau karena berbagai sebab terdesak ke dalam bagian jiwa yang lebih dalam yang oleh ilmu psikologi disebut “alam tak sadar”. Proses yang terjadi dalam alam bawah sadar banyak dipelajari oleh ahli psikologi dan dikembangkan oleh S. Freud dalam ilmu psikoanalisa.
Selain pengetahuan, alam kesadaran manusia juga mengandung berbagai macam perasaan.

“Perasaan” adalah suatu keadaan dalam kesadaran manusia yang karena pengetahuannya dinilai sebagai keadaan yang positif atau negative. Suatu perasaan yang bersifat subjektif karena adanya unsur penilaian tadi biasanya menimbulkan “kehendak” dalam kesadaran seseorang. Perasaan atau keinginan yang berdebar-debar tersebut disebut “emosi”. Kesadaran manusia juga mengandung berbagai perasaan yang di pengaruhi oleh organismenya khususnya gen sebagai naluri yang disebut “dorongan”. Sedikitnya ada 7 dorongan naluri yaitu:
1. Dorongan untuk mempertahankan hidup
2. Dorongan seks
3. Dorongan mencari makan
4. Dorongan untuk bergail / berinteraksi dengan sesama
5. Dorongan untuk menirukan tingkah laku sesamanya
6. Dorongan untuk berbakti
7. Dorongan untuk keindahan

Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa kepribadian seseorang dibentuk oleh pengetahuan yang dimilikinya dari penggambaran dunia sekitarnya serta fantasi mengenai berbagai macam hal, juga ada materi yang menjadi objek dan sasaran unsur kepribadian secara sistematis.

Ada 3 hal yang merupakan isi keribadian yang pokok yaitu:

1. Beragam kebutuhan organik diri sendiri, kebutuhan dan dorongan psikologi diri sendiri, serta dorongan organik maupun psikologi sesama manusia selain diri sendiri.
2. Beragam hal yang bersangkutan dengan kesadaran individu akan identitas diri sendiri dari aspek fisik, psikologi, yang menyangkut kesadaran individu.
3. Beragam cara untuk memenuhi, memperkuat, berhubungan, mendapatkan atau menggunakan beragam kebutuhan sehingga tercapai rasa kepuasan dalam memenuhi kebutuhan tersebut.

Aneka ragam kepribadian individu dan Kebudayaan
Adanya beragam struktur kepribadian manusia disebabkan adanya beragam isi dan sasaran dari pengetahuan, perasaan, kehendak dan keinginan kepribadian serta perbedaan kualitas hubungan antar berbagai unsur kepribadian dalam kesadaran individu. Mempelajari materi dari setiap unsur kepribadian merupakan tugas psikologi yang berupa kebiasaan / habit atau berbagai macam materi yang menyebabkan timbulnya kepribadian.

· Kebiasaan ( Habit
· Adat istiadat (custom)
· Sistem social (social system)
· Kepribadian individu (individual personality)
· Kepribadian umum (modal personality)
· Kebiasaan, adat dan kepribadian

Karena materi yang merupakan isi dari pengetahuan dan perasaan seorang individu berbeda dengan individu yang lain, dan juga sifat serta intensitas kaitan antara beragam bentuk pengetahuan maka setiap manusia memiliki kepribadian yang khas. Dari berbagai jenis kepribadian tersebut telah diringkas menjadi berbagai type dan sub type yang merupakan tugas psikologi. Walaupun begitu, antropologi dan ilmu sosial lainnya juga memperhatikan masalah kepribadian ini walaupun hanya memperdalam atau memahami adat istiadat dan sistem sosial lainya. Ini dikarenakan ada hubungan yang sangat jelas antara kepribadian individu atau kelompok dengan adat dan kebudayaan suatu daerah. Dimana kebudayaan itu mempengaruhi pembentukan pola kepribadian seorang individu.

Berbicara mengenai kepribadian dan kebudayaan, tidak terlepas dari hubungan antara masyarakat dan kebudayaan. Masyarakat dan kebudayaan merupakan perwujudan atau abstraksi perilaku manusia. Kepribadian mewujudkan perilaku manusia. Perilaku manusia dapat dibedakan dengan kepribadiannya, karena kepribadian merupakan latar belakang perilaku yang ada dalam diri seorang individu.

Kepribadian mencakup kebiasaan-kebiasaan, sikap, dan lain-lain sifat ynag khas dimiliki seseorang yang berkembang apabila orang tadi berhubungan dengan orang lain. Kepribadian sebenarnya merupakan organisasi faktor-faktor biologis, psikologis, dan sosiologis yang mendasari perilaku individu. Faktor-faktor tersebut mempengaruhi suatu individu baik secara langsung maupun tidak langsung.

Dalam menelaah pengaruh kebudayaan terhadap kepribadian, sebaiknya dibatasi pada bagian kebudayaan yang secara langsung mempengaruhi kepribadian. Berikut tipe-tipe kebudayaan khusus yang nyata mempengaruhi bentuk kepribadian yakni:

1. Kebudayaan-kebudayaan khusus atas dasar factor kedaerahan. Di sini dijumpai kepribadian yang saling berbeda antara individu-individu yang merupakan anggota suatu masyarakat tertentu, karena masing-masing tinggal di daerah yang tidak sama dan dengan kebudayaan-kebudayaan khusus yang tidak sama pula. Contoh adat-istiadat melamar mempelai di Minangkabau berbeda dengan adat-istiadat melamar mempelai di Lampung.

2. Cara hidup di kota dan di desa yang berbeda (urban dan rural ways of life). Contoh perbedaan antara anak yang dibesarkan di kota dengan seorang anak yang dibesarkan di desa. Anak kota terlihat lebih berani untuk menonjolkan diri di antara teman-temannya dan sikapnya lebih terbuka untuk menyesuaikan diri dengan perubahan sosial dan kebudayaan tertentu. Sedangkan seorang anak yang dibesarkan di desa lebih mempunyai sikap percaya diri sendiri dan lebih banyak mempunyai sikap menilai (sense of value).

3. Kebudayaan khusus kelas sosial. Di dalam setiap masyarakat akan dijumpai lapisan sosial karena setiap masyarakat mempunyai sikap menghargai yang tertentu pula.

4. Kebudayaan khusus atas asar agama. Agama juga mempunyai pengaruh besar di dalam membentuk kepribadian seorang individu. Bahkan adanya berbagai madzhab di dalam satu agama pun melahirkan kepribadian yang berbeda-beda pula di kalangan umatnya.

5. Kebudayaan berdasarkan profesi. Pekerjaan atau keahlian juga memberi pengaruh besar pada kepribadian seseorang. Kepribadian seorang dokter, misalnya, berbeda dengan kepribadian seorang pengacara, dan itu semua berpengaruh pada suasana kekeluargaan dan cara-cara mereka bergaul.

                 .                     ................................................  .

Senin, 22 Februari 2010

PRAMUDYA A T



1. Bagaimanapun masih baik dan masih beruntung pemimpin yang dilupakan oleh pengikut daripada seorang penipu yang jadi pemimpin yang berhasil mendapat banyak pengikut.

2. Betapa sederhana hidup ini sesungguhnya yang pelik cuma liku dan tafsirannya.

3. Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berpikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang memang berjiwa kriminil, biar pun dia sarjana.

4. Apa bisa diharapkan dari mereka yang hanya bercita-cita jadi pejabat negeri, sebagai apapun, yang hidupnya hanya penantian datangnya gaji?

Kamis, 11 Februari 2010

lagu INDONESIA RAYA harus di revisi

lyric :
Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku/
di sanalah aku berdiri jadi pandu ibuku/
...... ( dst, sampai selesai)


di sanalah  .. kenapa bukan " di sinilah "? Memang kita menyanyikannya di mana? Kalau para pahlawan devisa TKI/TKW   yang menyanyikannya di negeri orang memang pas. Apa karena bapak angkatnya WR SOEPRATMAN , yang orang belanda itu, bukan warga negara sini, jadi nyanyinya  harus "di sanalah" . Entah lah...

Minggu, 31 Januari 2010

NOTASI BALOK..



apakah notasi balok itu mutlak perlu? jawabnya tentu saja YA. Tapi bukan berarti untuk bermusik harus bisa baca tulis not balok. Memainkan instrumen musik, syaratnya adalah mengenal sistem nada instrumen itu, lalu cara dan teknik memainkannya. Nah, dalam mengenali sistem nada itulah digunakan notasi, agar dapat di pelajari (sistem nadanya) oleh banyak orang. Tetapi, untuk kebutuhan praktis, banyak cara yang dapat dilakukan selain dengan notasi baalok. Musik tradisi diajarkan langsung dg meniru, kalaupun ada notasi, notasi itu sangat sederhana dan mudah dimengerti.